MELIHAT gaya Gary (sekitar 5 tahun) di Polsek Matraman, Jakarta Timur, tidak ada yang akan menyangka tiga hari yang lalu dia masih menjadi anak jalanan. Pekerjaannya sehari-hari adalah mencopet handphone milik penumpang kereta api.
Namun, bila bergaul dengan dia beberapa waktu, kita akan menyadari dia sebenarnya bukan anak jalanan. Kemungkinan dia adalah korban penculikan yang kemudian dikaryakan sebagai pencopet.
Wajah bocah yang terlihat seperti keturunan Tionghoa ini semula mengaku tidak punya orangtua. Gary ditemukan oleh Juviano Aparicio, pemuda dari Timor Leste yang datang dari Yogyakarta dan hendak ke Kedutaan Timor Leste di Jakarta.
”Saya menemukan Gary jalan mondar-mandir di kereta Progo jurusan Senen. Lalu saya ajak dia saja. Saya curiga dia adalah korban penculikan,” kata Juviano. Saat ditanya, Gary semula mengatakan kedua orangtuanya sudah meninggal karena kebakaran. Rumahnya dulu berada di sekitar Stasiun Bekasi. Dia tidak tahu nama orangtuanya.
Tetapi setelah diajak ngobrol agak lama, Gary mengaku nama ayahnya Asun dan ibunya Yanti. Dia punya nenek yang tinggal di Tanah Abang. Kini Gary dirawat oleh Retno Widati, pemilik Sanggar Kayumanis yang juga pengusaha jamu dan pengobatan alternatif. Kepada Retno, Gary memanggil ibu. ”Ketika kami naik mobil yang ada AC-nya, dia langsung bilang AC-nya dingin ya. Berarti dia tahu AC,” kata Retno.
Selain itu, Gary juga bercerita ayahnya punya mobil Kijang warna hitam. ”Waktu mandi dia juga mengenal sabun cair. Kalau benar anak jalanan, dia tak akan tahu soal sabun,” ujar Retno. Selain itu, Gary juga ternyata mahir menggunakan sumpit. Dia bisa membedakan mana mi ayam yang enak dan mana yang tidak.
Retno telah memeriksakan Gary ke dokter, dan dokter tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya maupun kekerasan seksual. ”Yang ada adalah kekerasan mental. Beberapa kali dia bicara kasar, jorok, dan tidak sopan,” jelas Retno.
Sementara itu, Kepala Polsek Metro Matraman Komisaris Kasworo mengatakan, kemungkinan besar Gary adalah korban penculikan yang kemudian dikaryakan sebagai pencopet. ”Sehari dia bisa mencopet tujuh handphone di kereta. Setelah itu handphone disembunyikan di kolong kursi kereta,” kata Kasworo.
Dia menambahkan, jika memang ada orangtua yang kehilangan anak, silakan datang ke Polsek Matraman. Jika memang tidak ada, Gary akan diserahkan ke panti asuhan. ”Diharapkan jika Gary berhasil bertemu orangtua sejatinya, bisa membantu kami mengungkapkan sindikat penculikan anak ini,” Kasworo menegaskan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang